Resep Andalan untuk Hidangan Hari Raya

Berawal dari ….


Tema tulisan bulanan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog memang selalu membuat penasaran, deh. Setelah 3 bulan berjalan dengan tema “Alasan Kembali Ngeblog”; “Alasan Memilih Kuliah di Jurusan Masing-masing”; dan “Review Buku tentang/ditulis oleh Perempuan Inspiratif”; bulan ini sempat ada perbedaan mengenai pilihan tema di kalangan para mamah member MGN.

Pasalnya, admin WAG mengajukan tiga pilihan tema untuk tantangan bulan Mei ini. Ketiga tema tersebut adalah:

  • Resep Andalan (merayakan Hari Idul Fitri)
  • Review Film Genre Keluarga/Tema Pendidikan (memperingati Hari Pendidikan Nasional)
  • Pengalaman Berharga selama Kuliah

Begitu pilihan tema di atas dilontarkan oleh admin, dalam waktu singkat grup menjadi ramai dengan percakapan-percakapan semacam:

“Yah, jangan resep dong, aku gak bisa masak!” –💐–

“Resep masakan GoFood bisa kan?” –🌹–

“Ya ampun, review film! 😨 Udah bertahun-tahun aku gak pernah nonton film lagi!” –🥀–

“Aku sekarang kalo nonton film, pasti ngantuk bahkan sebelum filmnya separo jalan.” –🌷–

Review drakor boleh gak?” –🌸–

“Aku kalo resep andalan mah gampang, cuma dua bahan: telor + minyak goreng. Soalnya resep andalanku telor dadar 😂😂.” –🌺–

“Gpp resep aja lah, masih relate ini sama kehidupan sehari-hari. Kalo review film, ga tau mau ngereview apa 🙈.” –🏵️–

Nama-nama pelaku percakapan saya samarkan menjadi bukan nama sebenarnya.

Hahaha … kebayang kan, gimana ramainya grup kami hanya karena perbedaan preferensi tema tantangan bulan ini? Jadi demi meredam keriuhan, admin pun berinisiatif melakukan voting untuk dua tema tersebut. Sedangkan tema ketiga, otomatis tersisih karena beberapa pertimbangan.

Voting berlangsung dengan cukup ketat, tetapi pada akhirnya dimenangkan oleh tema resep andalan dengan keunggulan dua suara saja. Tema apa yang saya pilih? Tentu saja saya memilih tema resep andalan. Bukan karena jago memasak, tetapi karena bulan ini rasanya akan sulit saja untuk meluangkan waktu menonton film dikarenakan adanya Hari Idulfitri.

Selain itu, menonton film untuk selanjutnya membuat review-nya, bagi saya memang harus meluangkan waktu khusus, karena walaupun saya paham alur dari sebuah film, saya sulit mengingat nama tokoh atau tempat-tempatnya 🙈. Jadi kebayang lah, nanti tuh saya bakal menonton film sambil membawa catatan, terus masih bakal membuka Google juga untuk membaca resensinya demi mencari inspirasi. Kenapa malah kesannya kayak mau bikin laporan tugas kuliah ya? Begitu lah pokoknya, bagi saya bulan ini rasanya lebih mudah menulis kalau tema tantangannya adalah resep andalan. 😀

Lantas, mau nulis resep andalan apa sih, Mbak Mei?


OPOR AYAM


Tentu saja, resep andalan yang saya buat hanya setahun sekali saat Hari Raya Idul Fitri, menjadi tokoh utama dari tulisan kali ini. 

Sedikit Kilas Balik


Saya dibesarkan oleh orang tua sebagai anak perempuan yang bebas melakukan apa yang saya mau, selama itu kegiatan yang positif dan tidak mengganggu pelajaran di sekolah. Di rumah kami dulu selalu ada ART yang membantu urusan bersih-bersih rumah, mencuci, dan menyetrika. Adapun urusan memasak dipegang sendiri oleh ibu saya. Jadi sebagai anak, kegiatan saya hanya bersekolah, les, ikut kegiatan ekskul, mengaji, dan mengerjakan PR. Membersihkan rumah mungkin hanya sebatas merapikan kamar meliputi lemari, tempat tidur, dan meja belajar, lalu sesekali mengelap perabotan di ruang tamu.

Ibu tidak pernah sekalipun menyuruh saya memasak, walau tidak melarang juga kalau saya ingin ikut nimbrung kala beliau sedang memasak. Saya sudah berhasil membuat puding cokelat sendiri saat kelas dua SD, dengan melihat resep di salah satu buku bacaan favorit dari serial Tini. Saya juga sudah bisa membuat keik sederhana saat SMP. Jika diminta membantu menggoreng-goreng pun, saya bisa melakukannya dengan baik. Hanya saja, urusan memasak makanan sehari-hari memang tidak pernah saya sentuh.

Salah satu judul dari buku serial cerita “Tini” yang menginspirasi saya untuk belajar memasak saat kecil. Foto saya ambil dari sini

Membersihkan ikan? Jangan ditanya. Ibu saya saja malas, kok; beliau selalu membeli ikan dalam kondisi sudah dibersihkan. Jadi bisa dibilang, saya ini tidak bisa memasak, tetapi tidak alergi juga dengan dapur, buktinya saya masih bisa membuat kue-kue dan masih semangat juga kalau disuruh ikut membantu di dapur.

Selama 10 tahun sekolah, kuliah, dan bekerja di Bandung, tidak pernah saya memasak sendiri walaupun di kost tersedia dapur. Ribet, jadi saya selalu membeli sayur dan lauk matang, sementara nasi saya masak sendiri pakai rice cooker.

Sampai saya kembali ke kampung halaman setelah sepuluh tahun merantau pun, saya tetap mengandalkan Ibu untuk urusan meracik bahan dan bumbu masakan; saya bagian mengiris atau mengulek saja. Tidak pernah sekalipun dari bibir Ibu keluar ucapan seperti, “Anak perempuan belajar masak yang bener sana, biar gak malu-maluin kalo nanti ikut mertua.”

Ibu memang selalu berharap kelak anak-anak perempuannya tidak perlu tinggal bersama mertua alias bisa tinggal di rumah sendiri, dan beranggapan kalau urusan belajar memasak akan bisa berjalan alami setelah seorang perempuan menikah.

Pernah pada suatu hari, calon suami saya dan temannya mengadakan acara bakar-bakar ikan. Saya diajak turut serta untuk membantu istri temannya mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk membersihkan ikan. Sontak saya terkejut, dan berkata jujur kalau saya tidak bisa dan tidak pernah membersihkan ikan. Calon suami saya pun heran, dan memastikan kebenarannya pada Ibu. Bisa tebak apa yang dikatakan ibu saya saat itu?

“Ya wajar Meta enggak bisa mbersihin ikan, orang memang enggak pernah Ibu ajari. Ibu aja kalo beli ikan maunya yang udah bersih kok,” jawab ibu saya dengan santai.

Calon suami saya masih tetap terkejut, lalu memastikan lagi kalau sekali pun saya tidak pernah memasak selama itu.

“Iya bener, Meta itu enggak bisa masak, Ibu juga enggak pernah nyuruh dia belajar masak. Paling Ibu nyuruh dia mbantu nyiapin bumbu aja, jadi enggak buta-buta amat kok dia sama urusan perbumbuan. Dilatih sedikit aja juga pasti cepet bisa,” lanjut Ibu menenangkan calon suami saya.

Ngomong-ngomong, ibu saya sangat pandai memasak. Masakannya selalu enak dan beliau bisa membuat bermacam-macam masakan serta penganan, sekalipun tanpa resep dan hanya dengan modal ‘pernah mencicipi masakan tersebut sebelumnya’. Akan tetapi, Ibu sering berkata pada saya, kalau memasak sesungguhnya bukanlah passion beliau.

Beliau memasak sebatas kewajiban memenuhi nutrisi keluarga, dan kalau disuruh memilih salah satu saja, beliau lebih memilih menjahit untuk memanfaatkan waktu dalam hidupnya. Kalau ada masakan yang dijual dan rasanya enak, Ibu juga tidak ragu membelinya di kala sedang malas memasak.

Prinsip Ibu tersebut tampaknya menurun ke saya, dan saya terang-terangan bilang ke calon suami saat belum menikah dulu, kalau saya ingin memasak itu tidak dijadikan sebuah rutinitas. Saya boleh bebas tidak memasak kalau memang sedang tidak ingin memasak. Suami mempersilakan, dengan catatan tetap harus ada makanan tersedia di meja ketika waktu makan tiba.

Ketika akhirnya menikah dan saya ikut pindah ke desa, baru saya dapati kenyataan kalau di desa ini (ketika itu) tidak ada penjual masakan matang selain soto dan pecel. Akhirnya, saya memaksa diri saya untuk bisa memasak. Tak jarang saya menelepon Ibu ketika akan memasak, sekadar bertanya resep dan cara memasak suatu menu. Masakan andalan saat itu tentu saja, sayur sop, hahaha ….

Menu andalan ketika awal menikah: sayur sop, tempe goreng, bawang goreng, dan sambal kecap. Foto dok. pribadi

Sayangnya, suami tidak begitu menggemari sayur sop dan sayur-sayur berkuah bening lainnya, terutama kala cuaca sedang dingin. Karena itulah saya belajar membuat masakan bersantan dan tumisan. Trial and error banyak sekali saya lalui dalam menyajikan makanan untuk keluarga, hingga akhirnya saya menyerah. Rasa masakan yang tidak kunjung memuaskan suami ditambah kesibukan menjahit, bersambut dengan kehadiran bisnis kuliner perdana di desa kami yang menyediakan masakan matang. Serasa menemukan oase di padang gurun, saya pun rutin membeli masakan matang sejak saat itu, apalagi rasa masakannya cocok dengan lidah suami. Namun, akhirnya ibu penjual sayur tidak lagi berdagang sejak suaminya meninggal dunia.

Setelah itu, sebetulnya ada banyak penjual sayur matang, tetapi saya tidak begitu sreg untuk membeli. Jadi, sesekali saja saya membeli sayur matang, selebihnya masak sendiri. Apalagi, saya juga sudah menemukan aplikasi Cookpad yang sangat membantu untuk saya menemukan ide masakan rumahan sehari-hari yang mudah dan simpel. Urusan memasak sudah agak lebih mudah saya rasakan.

Aplikasi andalan di kala butuh ide resep masakan baru

Kembali ke Topik Utama: Opor Ayam


Ketidakbisaan saya memasak di awal pernikahan, membuat saya tidak pernah berani memasak hidangan untuk Idulfitri. Jadi, selama bertahun-tahun, ibu mertua yang selalu memasak sayur ayam untuk saya, suami, dan anak-anak santap di hari lebaran. Sayur ayam ini adalah ayam kampung yang dimasak berkuah santan, tanpa ada ciri khas tertentu.

Ketika sudah mengenal aplikasi Cookpad, kerinduan saya akan opor ayam yang biasa dimasak Ibu saat lebaran pun muncul. Sengaja saya tidak menanyakan resepnya pada Ibu, karena saya sudah sadar kalau saya lebih bisa belajar masak dengan membaca resep yang terukur. Sedangkan kalau bertanya pada Ibu, semua resepnya memakai ukuran kira-kira, alhasil masakan saya sering ngalor ngidul enggak jelas rasanya. Begitulah, menjelang lebaran tahun 2018 (kalau tidak salah ingat), untuk pertama kalinya saya berkata dengan yakin kepada suami untuk masak sendiri hidangan lebaran tahun itu. Kebetulan saya juga baru punya panci presto, jadi saya sudah berencana untuk memasak opor ayam memakai panci presto.

Suami, walau agak ragu, mengiyakan saja perkataan saya. Yaa … sembari bolak-balik bertanya gitu, “Yakin, Bun, mau masak sendiri buat lebaran?” Yang jelas, bukan saya namanya kalau tidak bertekad berhasil saat sudah memutuskan sesuatu.

Begitulah, berbekal layar hp yang menampilkan resep yang saya pilih di Cookpad, dengan semangat ’45 saya memasak opor ayam di malam takbir, setelah semua pekerjaan menjahit beres. Iya, di tahun itu saya masih sangat sibuk menjahit, hingga H-1 lebaran pun saya masih berkutat dengan mesin jahit. Berhasilkah opor ayam perdana saya? Alhamdulillah, berhasil dong …. Bagaimana tanggapan suami? Dia bilang, “Kalau memang niat, masakan kamu enak juga ya.”

Opor ayam resep dari Mbak Dewi Ratnasari di Cookpad

Serasa teriris sembilu hati ini, tapi memang begitulah kenyataannya. Jadi ya suda, yang penting opornya enak, dan kerinduan saya pada opor ayam pun terobati. Anak-anak juga ternyata sangat doyan, jadi bahagialah hati saya 😌.

Pada lebaran tahun 2019, adik-adik suami yang tinggal di pulau Jawa mudik bersama keluarga masing-masing, dan mereka berkesempatan mencicipi opor ayam buatan saya. Tanggapan mereka semua sangat positif. Ya Allah, sampai opor ayam langsung habis oleh mereka 😂. Bahkan wadah sambal goreng teman makan opor pun licin karena isinya langsung ludes. Khusus sambal goreng ini, penggemarnya adalah istri adik ipar yang berasal dari Solo. Saking sukanya dia dengan sambal goreng saya, ngemil kerupuk pun sambil dicocol ke sambal tersebut, hihihi ….

Foto keluarga kecilku bersama adik-adik ipar dan para keponakan pada Idul Fitri tahun 2019. Merekalah yang membuat ludes opor ayam saya ketika itu 😂

Sekarang, anak-anak selalu request dimasakkan opor ayam setiap lebaran. Mereka suka opor karena kuahnya gurih dan tidak pedas, berbeda dengan sayur ayam yang biasa dimasak Mbah Putri mereka yang berkuah pedas. Saya juga pernah menghidangkan opor ayam kepada teman-teman goweser yang berkunjung ke rumah tahun 2020 lalu. Sepertinya, opor ayam sudah menjadi masakan andalan saya dalam menjamu tamu yang datang bersilaturahmi.

Opor ayam untuk menjamu teman-teman goweser yang bersilaturahmi dengan bersepeda ke rumah kami tahun 2020 lalu

Tahun ini, tentu saja saya berencana membuat opor ayam kembali untuk lebaran. Biasanya, ayam kampung untuk opornya diberi oleh ibu mertua; suami bagian menyembelih dan membersihkan, saya bagian memasak. Sebelum memasak, saya berburu beberapa bahan dan bumbunya dulu di pekarangan belakang rumah. Kelapa, kunyit, jahe, lengkuas, serai, dan daun salam bisa saya dapatkan di sana. Daun jeruk saya minta ke tetangga, sedangkan kelapa saya parutkan ke rumah bibi yang mempunyai alat pemarut elektrik-nya.

Bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, ketumbar, kemiri, merica, dan garam dihaluskan, sementara lengkuas dan batang serai digeprek. Bumbu halus ditumis di wajan sampai harum dulu, baru boleh kita tambahkan daun salam, daun jeruk, batang serai, dan lengkuas. Lanjutkan menumis bumbu hingga bumbunya matang, yang ditandai dengan berubahnya tekstur bumbu menjadi butiran-butiran kasar.

Tumisan bumbu yang sudah matang

Kalau bumbu sudah matang, tambahkan santan encer, lalu masukkan potongan-potongan ayamnya. Aduk perlahan supaya potongan ayam terkena bumbu seluruhnya, lalu diamkan hingga daging ayam berubah menjadi kaku.

Potongan ayam di dalam kuah santan encer (fotonya buram 🙈)

Jika daging ayam sudah kaku, tuang santan kental, dan terus aduk-aduk perlahan sampai santan tanak supaya santan tidak pecah. Tambahkan gula pasir dan penyedap, tes rasa, lalu lanjutkan memasak hingga daging ayam kampung menjadi empuk.

Selagi menunggu daging ayam menjadi empuk, kita bisa mencuci segala perkakas yang kotor, jadi saat opor matang, dapur sudah kembali bersih dan rapi.

Atau, bisa juga kita gunakan waktunya untuk membuat sambal goreng teman makan opor. Bahannya hanya cabai merah, bawang merah, dan bawang putih yang dihaluskan bersama sedikit parutan lengkuas. Setelah itu bahan halus digoreng sampai terendam cukup minyak. Tambahkan batang serai yang sudah digeprek dan daun salam, garam, juga gula pasir, masak sampai minyak asat dan sambal sudah betul-betul harum. Oh ya, rasa sambal ini harus pedas-manis ya, jadi bukan pedas sekadar pedas.

Di hari raya, opor ayam biasanya saya sajikan bersama ketupat, sambal goreng, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Nikmat sekali rasanya, hingga kalau tidak ingat timbangan, pastilah saya akan menambah porsi hingga berkali-kali 😆.

Pada Akhirnya ….


Memasak jelas menghadirkan perasaan bahagia tatkala santapan yang kita buat diapresiasi dengan hangat oleh keluarga. Meskipun begitu, kalau ditanya apakah saya menyukai kegiatan memasak, jawaban saya adalah tidak begitu suka. Saya tetap tidak bisa menikmati waktu berlama-lama di dapur dalam frekuensi yang cukup sering. Ketika mood memasak sedang tidak ada, saya tetap lebih memilih untuk membeli masakan matang daripada menghasilkan masakan yang tidak jelas rasanya.



Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei 2021, dengan tema “Resep Masakan Andalan”

21 Comments

    1. Hahaha… Aku pilih resep di cookpad itu berdasarkan kesimpelan dan ke-masuk akalan-nya. Tetep gak bisa jauh-jauh bahannya dari resep yang udah pernah dikasih tau ibuku, cuma lebih perlu takaran pas-nya 😄. Kalo Githa berdasar apa pilih resepnya?

      Balas

      1. berdasarkan rating di cookpadnya teh hehe, kalo saya sih ribet gapapa asal terbukti enak (banyak yg recook dan komen kalo masakannya enak) 😁

  1. Waw keren Teh opor ayamnya,,, tampaknya prima banget, semua bahannya segar, rasanya tentu lebih enak dari yg bumbu instan yaa hehe *pengalamankalaumasakbersantanpakaibumbuinstan* 😃

    Balas

    1. Pastinya dong 😄, selain lebih enak, yang jelas rasanya lebih alami tanpa ada after taste yang biasanya suka tertinggal di lidah atau tenggorokan kalau pakai bumbu instan 😉

      Balas

  2. Tehh.. Saya setuju sama mamahnya.
    Kalo boleh milih mah, mending jait daripada masak. Apa daya krn masak lebih hemat buat keluarga kami yg doyan makan, mau ga mau harus bisa masak.
    Sekarang ruang jahit sy di dapur, jadi sekalian deh dua2nya dikerjain 😁

    Balas

    1. Iya banget sebetulnya. Njahit loh bisa menghasilkan duit, hahaha… Tapi berhubung masak sendiri memang lebih hemat (secara finansial, bukan waktu), jadi ya udahlah dijabanin aja. Kalo lagi bener-bener males masak ya udah beli atau masak mi instan 😌

      Balas

  3. Saya juga zaman gadis enggak pernah masak… Kalau bantuin ibu masak, cuma kebagian bersihin dan motong-motong aja, heuheu…
    Nah, pas lebaran pun saya enggak masak apa-apa… Justru masak opor ayamnya pas ramadan, buat buka puasa… Dimakan bareng gudeg banda dan kreceknya 😀

    Balas

    1. Kalau masak untuk lebaran, hukumnya harus di keluarga kecil aku, suami sampai wanti-wanti, “Silakan kue/jajanan lebaran beli, tapi hidangan lebaran harus masak sendiri”.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s