Galau karena Limbah Usaha Produksi

Foto unggulan oleh Juan Pablo Serrano Arenas dari Pexels

Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, tiba-tiba saja kita sudah bertemu kembali dengan bulan Juni. Bulan baru berarti tema baru untuk Tantangan Mamah Gajah Bercerita (MaGaTa), yang temanya selalu disesuaikan dengan peristiwa yang paling ngehits di bulan yang sedang berjalan.

Tema tantangan bulan Juni ini, yaitu “Save Our Planet” dengan tema minggu pertamanya “Masalah Lingkungan, Masalah Kita Bersama”, terasa agak berat bagi saya. Mengingat nilai saya yang masih merah dalam bidang pelestarian lingkungan, sejak tema diumumkan pada Jumat lalu saya sudah berkali-kali terpikir untuk skip dulu saja tantangan bulan ini. Namun, kemudian saya teringat ada beberapa hal yang selama ini mengganggu pikiran saya terkait dengan bidang usaha yang saya jalani, dan rasanya relevan dengan tema tema kali ini.

Pada tulisan sebelumnya, pernah disinggung bahwa saya menjalankan sebuah usaha rumah jahit, lalu karena berbagai sebab usaha tersebut sempat vakum. Saat ini saya sudah mulai menjalankannya kembali dalam skala yang sangat terbatas. Tidak dipungkiri, saya bercita-cita usaha ini menjadi semakin besar di masa depan. Namun, masalah limbah yang dihasilkan tak jarang membuat saya selalu ragu dan kemudian berpikir, “Sudah tepatkah apa yang saya kerjakan ini”?

Membuat pakaian adalah lingkup usaha yang tidak bisa dikatakan minim limbah. Sekalipun saya sudah berusaha memotong bahan dengan seefisien mungkin untuk meminimalkan bahan yang terbuang sia-sia, tetap saja limbah yang dihasilkan sangat cepat terkumpul. Terlebih jika bahan yang digunakan berasal dari golongan brokat, tule berbordir, atau batik dengan motif searah, bisa dipastikan cukup banyak limbah yang terkumpul. Saya pernah lho, mengumpulkan satu plastik besar limbah kain hanya dalam satu minggu saja, berupa potongan kain perca dari bahan brokat dan tule. Ukuran dan bentuknya tidak beraturan sehingga tidak mungkin saya simpan karena sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Untuk teman-teman ketahui, saya termasuk dressmaker yang rajin mengumpulkan bahan sisa, dengan maksud ingin memanfaatkan bahan sisa tersebut suatu hari nanti. Akan tetapi, pada akhirnya saya tidak memiliki waktu untuk mewujudkan keinginan itu, hingga lemari penyimpanan saya malah jadi penuh sesak dengan kain-kain sisa produksi. Itu pun belum termasuk perca yang saya simpan di dalam karung besar di pojok ruang kerja saya. Pada akhirnya, kain-kain yang sudah terlalu lama disimpan saya serahkan kepada suami untuk dibakar, daripada harus memenuhi ruangan.

Mungkin ada di antara teman-teman yang berpikir, “Kenapa tidak diberikan saja kain percanya kepada crafter untuk diolah lebih lanjut”, percayalah! Saya juga inginnya begitu, saya bahkan bercita-cita untuk bisa mendirikan kelompok usaha kreatif yang kegiatannya membuat benda-benda kriya dari kain sisa produksi di rumah jahit saya. Akan tetapi, kondisi saat ini belum mendukung untuk terwujudnya keinginan saya tersebut. Saya sendiri masih terkendala dengan manajemen waktu antara mengurus keluarga dan pekerjaan–dengan porsi waktu lebih banyak tersedot untuk keluarga–, jadi rasanya betul-betul sulit jika harus memanajemen lini kegiatan baru terkait pengolahan limbah kain.

Jadi, kembali ke topik minggu ini tentang lingkungan, saya menyadari akan kontinu menyumbang sampah untuk lingkungan jika melanjutkan kegiatan saya dalam bidang dressmaking. Jujur saja, tiap kali membuang berplastik-plastik kain sisa produksi, saya merasa bersalah karena sampah-sampah itu sulit terurai. Pun jika kemudian sampah tersebut dibakar, saya juga merasa bersalah karena sudah turut andil menyumbangkan karbondioksida ke udara. Sekalipun di sekitar rumah masih banyak pepohonan yang memerlukan CO2 untuk proses fotosintesis, rasa bersalah itu tidak bisa dengan mudah pergi dari hati saya.

Masalah sampah dan dampaknya terhadap lingkungan adalah betul masalah kita bersama. Saat ini saya memang belum bisa memberikan sumbangsih untuk kelestarian lingkungan, tetapi saya akan berusaha untuk terus meminimalkan sampah yang saya hasilkan.

Semoga Allah memudahkan langkah kita semua dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Me Time dan Dukungan Keluarga untuk Menikmatinya

Me time, sejujurnya istilah ini baru saya kenal setelah menikah, yang artinya kurang lebih ‘waktu yang dinikmati untuk menyenangkan diri sendiri’. Pentingkah me time ini? Menurut The Asian Parent, me time untuk ibu sangat penting dilakukan supaya ibu tetap merasa ‘waras’ dan tidak stres menjalani rutinitas rumah tangga yang padat.

Me time sendiri memiliki berbagai manfaat. Menurut sebuah penelitian dari Washington University, St. Louis, Amerika Serikat, me time membuat seseorang lebih kreatif. Selain itu, me time dapat membuat pikiran menjadi lebih jernih, menurunkan tingkat stres, bahkan bisa menurunkan risiko penyakit jantung. Penelitian dari European Heart Journal, seseorang yang memiliki perasaan bahagia akan menurunkan risiko penyakit jantung hingga 22%.

–The Asian Parent–

Well, kalau begitu memang sebaiknya ibu memiliki me time-nya sendiri ya? Keluarga juga harus mendukung ibu untuk bisa menikmati me time-nya. Bukankah kebahagiaan anak-anak bersumber dari ibu yang bahagia?

Continue reading →

Menulis Kembali setelah Lebaran, Kenapa Rasanya Berat Sekali?

Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh kaum Muslimin di negara ini, tidak terkecuali oleh saya dan keluarga. Meskipun lebaran tahun ini kemungkinan sama sepinya dengan lebaran tahun lalu–karena tidak ada sanak keluarga yang mudik–tetapi setidaknya kami masih bisa beranjangsana ke rumah-rumah tetangga. Selain itu, lebaran pun memiliki arti adanya menu masakan spesial untuk disantap, yang sudah jauh-jauh hari dipesan oleh kedua anakku, menu spesial ini adalah ketupat dan opor ayam. Karena itulah, saya tetap memerlukan persiapan khusus untuk menyambut lebaran tahun ini.

Continue reading →

Doa untuk Keluargaku

Tak terasa, Ramadan tersisa dua hari lagi. Pikiranku melayang ke bulan lalu, sebelum Ramadan datang. Sedikit sesal hadir di hatiku, karena persiapan Ramadan tahun ini tidaklah sebaik tahun kemarin. Secara ruhiyah, aku jauh dari kata siap menyongsong datangnya bulan suci ini ….

Alhamdullilah, meski dimulai dengan kekurangsiapanku, Ramadan tahun ini masih berjalan baik, terutama untuk anak-anakku. Di hari pertama, aku berhasil menyusun ‘kurikulum dadakan’ untuk kakak dan adik beraktivitas selama Ramadan.

Continue reading →

Resep Andalan untuk Hidangan Hari Raya

Berawal dari ….


Tema tulisan bulanan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog memang selalu membuat penasaran, deh. Setelah 3 bulan berjalan dengan tema “Alasan Kembali Ngeblog”; “Alasan Memilih Kuliah di Jurusan Masing-masing”; dan “Review Buku tentang/ditulis oleh Perempuan Inspiratif”; bulan ini sempat ada perbedaan mengenai pilihan tema di kalangan para mamah member MGN.

Pasalnya, admin WAG mengajukan tiga pilihan tema untuk tantangan bulan Mei ini. Ketiga tema tersebut adalah:

  • Resep Andalan (merayakan Hari Idul Fitri)
  • Review Film Genre Keluarga/Tema Pendidikan (memperingati Hari Pendidikan Nasional)
  • Pengalaman Berharga selama Kuliah
Continue reading →